Bintang Syariah

Unit Usaha Syariah PT. Asuransi Bintang Tbk berdiri tanggal 19 Februari 2007 sejak keluar Salinan Keputusan Menteri Keuangan RI Tentang Pemberian Ijin Pembukaan Kantor Cabang Prinsip Syariah No. KEP-025/KM.10/2007 tertanggal 19 Februari 2007. Pendirian unit usaha syariah ini adalah jawaban kebutuhan masyarakat terhadap asuransi yang dikelola sesuai prinsip syariah serta untuk memperluas jaringan usaha asuransi yang semakin kompetitif dan komprehensif.

Produk-produk syariah
  1. Asuransi Kendaraan Bermotor Syariah
  2. Asuransi Kebakaran Syariah
  3. Asuransi Kecelakaan Diri Syariah
  4. Asuransi Kecelakaan Diri Tenaga Kerja Plus Syariah
  5. Asuransi Pengangkutan Syariah
  6. Asuransi Kesehatan Syariah.
  7. Asuransi Manfaat Tunai Kendaraan Bermotor Syariah
  8. Asuransi Perjalanan Umroh Salaam Safar

Asuransi Syariah adalah usaha saling tolong menolong (ta'awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para Peserta melalui pembentukan kumpulan dana (Dana Tabarru') yang dikelola sesuai syariah untuk menghadapi risiko tertentu.

Akad yang sesuai syariah yang dimaksud adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksia.

Prinsip yang dianut dalam asuransi syariah adalah prinsip Risk Sharing bukan Risk Transfer. Risiko bukan dipindahkan dari peserta kepada perusahaan asuransi (Risk Transfer), tetapi dibagi atau dipikul bersama di antara para peserta. Dalam konteks asuransi syariah, perusahaan asuransi bukan lagi sebagai penanggung suatu risiko namun berperan sebagai Pengelola (Operator) sedangkan peserta (Participant) bukan menjadi tertanggung namun peserta tersebut mengikatkan dirinya / bergabung dengan peserta lain untuk tolong menolong dalam menghadapi suatu risiko. Para Peserta bersepakat untuk memberikan sejumlah kontribusi yang sebanding dengan risiko yang dimilikinya untuk dikumpulkan dan digunakan untuk membayar kerugian yang diderita oleh anggota yang bergabung dalam kelompok yang mengalami musibah.

Akad-akad yang digunakan dalam Asuransi Syariah diantaranya adalah :
    1. Akad Tabarru' adalah akad hibah dalam bentuk pemberian dana dari satu peserta kepada peserta lain yang dihimpun pada Dana Tabarru' untuk tujuan tolong menolong diantara para peserta, yang tidak bersifat dan bukan untuk tujuan komersial. 2. Akad Wakalah bil Ujrah adalah akad wakalah yang memberikan kuasa kepada Pengelola sebagai wakil peserta untuk mengelola Dana Tabarru', sesuai kuasa atau wewenang yang diberikan, dengan imbalan pemberian ujrah (fee) sesuai dengan kesepakan bersama. 3. Akad Mudharabah adalah akad kerja sama antara pengelola sebagai mudharib (Pengelola Dana) dan para peserta sebagai shohibul maal (Pemilik Dana) dengan imbalan berupa bagi hasil yang besarnya sesuai dengan kesepakatan bersama.
Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

29 September 2006 Keluar Surat Rekomendasi dari DSN MUI dengan No. U-245/DSN-MUI/IX/200 tanggal 6 Ramadhan 1427 H/ 24 September 2006. Dewan Syariah Nasional MUI dapat memberikan rekomendasi atas pendirian unit usaha syariah.

Bagan Operasional

Keterangan: X% : Persentase Dana Tabarru'
Y% : Persentase Ujroh Pengelola
Z% : Persentase Cost untuk pembayaran komisi intermediari
a% : Persentase Surplus underwriting untuk Peserta
b% : Persentase Surplus underwriting untuk Dana Tabarru'
c% : Persentase Surplus underwriting untuk Pengelola

  • Call Center:
    1500481 (24 jam)
  • SMS Center:
    (+62) 838 888 4581
  • Email:
    cs@asuransibintang.com

Kantor Pusat :
Jl. RS Fatmawati No.32, Jakarta 12430
Telp: (021) 7590 2777 (hunting)
Fax: (021) 7656 287, (021) 7590 2555